Jumat, 23 November 2012

LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA

LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA

A.   Landasan Pendidikan
Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi di mana pun di dunia ini.Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan dalam latar social kebudayaan setiap masyarakat tertentu. Oleh karena itu, messkipun pendidikan itu universal, namun terjadi perubahan-perubahan tertentu sesuai dengan pandangan hidup dan latar social cultural tersebut. Dengan kata lain, pedidikan diselenggarakan berdasarkan filsafat hidup serta berlandaskan social cultural setiap masyarakat, termaksud di Indonesia. Kajian ketiga landasan itu (fisiologi,sosiologi,dan cultural) akan membekalisetiap tenaga kependidikan dengan wawasan dan pengetahuan yang tepat tentang  bidang tugasnya.
1.    Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: Apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya. Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat. Kata filsafat bersumber dari bahasa Yunani, philein berarti mencintai, dan shopos berarti hikmah, arif, atau bijaksana.


Tinjauan filosofis tentang sesuatu, termaksud pendidikan, berarti berpikir bebas serta merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya sesuatu itu.
a.    Pengertian tentang Landasan Folosofis
Terdapat kaitan yang erat antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu. Rumusan tentang harkat dan martabat manusia beserta masyarakatnya ikut menentukan tujuan dan cara-cara penyelenggaraan pendidikan, dan dari sisi lain, pendidikan berupaya menjawab secara kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan, seperti apa, mengapa, ke mana, bagaimana, dan sebagainyadari pendidikan itu. Kejelasan dalam berbaagai hal itu sangat perlu untuk menjadi landasan berbagai keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam pendidikan. Hal itu sangat penting karena hasil pendidikan tidak segera tampak, sehingga setiap keputusan dan tindakan itu harus diyakini kebenaran dan ketepatannya meskipun hasilnya belum dapat dipastikan. Ketepatan setiap keputusan dan tingdakan, serta diikuti dengan upaya pemantauan dan penyesuaian yang menerus, sangat penting karena koreksi setelah diperoleh hasilnya akan sangat sulit dan sudah terlambat.
Wayan Ardhana dkk. Mengemukakan bahwa aliran-aliran filsasfat bukan hanya mempengaruhi pendidikan, tetapi juga telah melahirkan aliran filsafat pendidilkan seperti :
a.    Idealisme
b.    Realisme
c.    Perenialisme
d.    Esensialisme
e.    Pragmatisme dan progresivisme
f.     Eksistensialisme
1)    Esensialisme
Esensialisme merupakan mazhab filssfat pendidikan yang menerapkan prinsip idealism dan realism secara eklektis.
2)    Perenialisme
Perenialisme menekankan keabadian teori kehikmatan.
3)    Pragmatisme dan progresivisme
Progmatisme atau gerakan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antaranya anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar.
4)    Rekontruksionisme
Mazhab rekontruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan.
b.    Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Pasal 2 UU-RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkar Pasncasila dan UUD 1945. Rincian selanjutnaya tentang hal itu tercamtum dalam Penjelasan UU-RI No.2 Tahun 1989, yang menegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk di bidang  pendidkan, adalah pengamaalan Pancasila, dan untuk itu Pendidikan Nasional mengusahakan antara lain: Pembentukan manusia Pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri. Sedangkan Ketetapan MPR-RI No. II/MPR/1978 tentang Pedoman  Penghayatan dan Pengamalan Pancasila menegaskan pula bahwa Pncasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila sebagai sumber dari segala gagasan dari segala wujud manusia dan masyarakat yang dianggap baik, sumber dari segala sumber nilai yang menjadi pangkal serta muara sari setiap keputusan dan tindakan dalam pendidikan, dengan kata lain: Pancasila sebagai sumber system nilai dalam pendidikan.
2.    Landasa Sosiologi
Kehidupan social manusia tersebut dipelajari oleh filsafat, yang  berusaha mencari hakikat masyarakat yang sebenarnya. Filsafat social sering membedakan manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota masyarakat
Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte pada tahun 1839, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan postif yang mempelajari masyarakat. Sosiologi mempelajari berbagai tindakan social yang menjelma dalam relita social.
a.    Pengertian tentang Landasan Sosiologis
Sosioligis pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses social dan pola-pola interaksi social di dalam system pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:
1.    Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain
2.    Hubungan kemanusian di sekolah
3.    Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya
4.    Sokolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok social lain di dalam komunitasnya.
b.    Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Dari dulu hingga kini, ciri yang menonjol dari masyarakat Indonesia adalah sebagai masyarakat yang majemuk (dari segi suku bangsa, adat istiadat, kebudayaan, agama dll) yang tersebar di ribuan pulau du nusantara. Sebagai masyarakat yang mejemuk, maka komunitas dengan cirri-ciri unik baik secara horizontal maupun vertical masih dapat ditemukan. Namun dengan niat politik yang kuat menjadi suatu masyarakat bangsa Indonesia serta dengan kemajuan dalam berbagai bidang pembangunan, utamanya dalam pendidikan politik, maka sisi ketunggalan dari bhineka tunggal ika makin mencuat. Berbagai upaya  yang dilakukan, baik melalui kegiatan jalur sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah telah menumbuhkan benih-benih persatuan dan kesatuan yang semakin kukuh.
3.    Landasan Kultural
a.    Pengertian tentang Landasan Kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar,
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangkan karena dan melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan.
Cara-cara untuk mewariskan kebudayaan, khususnya mengajarkan tingkah laku kepada generasi baru, berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Pada dasarnya ada tiga macam cara umum yang dapat diidentifikasikan, yaitu informal, nonformal dan formal. Cara informal terjadi di dalam keluarga, dan nonformal dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan cara formal melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan pendidikan. Pendidikan formal tersebut dirancang untuk mengarahkan perkembangan tingakah laku anak didik.
b.    Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik dari setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebhinekaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini haruslah dilaksanakan dalam rangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan Negara Indonesia sebagai sisi ketunggal ika-an.
4.    Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologi merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Pada umumnya landasan psikologis dari pendidikan tersebut terutama tertuju pada pemahaman manusia, khususnya tentang proses perkembangan dan proses belajar.
a.    Pengertian tentang Landasan Psikologis
Pemahaman peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangan diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan, umpama pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi, urutan, dan cirri-ciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang cara-cara paling tepat untuk mengembangknnya. Untuk  maksud itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada umumya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi.
Salah satu yang banyak mendapat perhatian adalah perbedaan kepribadian antara peserta didik pada khusunya, manusia pada umumnya. Perlu ditekankan bahwa kepribadian itu unik. Keunikan itu bukan hanya karena perbedaan potensial, tetapi juga perbedaan dalam perkembangannya karena pengaruh sekitarnya. Oleh karena itu, pemahaman perkembangan kepribadian akan sangat bermanfaat untuk pendidikan, utamanya dalam membantu setiap peserta didik untuk mengembangkan kepribadiannya.
b.    Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Peserta didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena petumbuhan maupun karena perkembangan. Pertumbuhan terutama karenan pengaruh factor internal sebagai akibat kematangan dan proses pendewasaan, sedangkan perkembangan terutama karena pengaruh lingkungan.
Salah satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadiaan yan mantap dan mandiri.
Salah satu prinsip perkembangan kepribadian ialah bahwa perkembangan keprbadian mencakup aspek behavioral maupun aspek motivasional: dengan perkembangan kepribadian, bukan hanya perubahan dari tingakah laku yang tampak, tetapi juga perubahan dari yang mendorong tingkah laku itu.
5.    Landasan Ilmiah dan Teknologi
Pendidikan serta ilmu pengatahuan dan teknologi mepunyai kaitan yang sangat erat. Seperti diketahui, iptek menjadi bagian utama dalam isi pelajaran: dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.
Dengan perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks maka pendidikan dalam segala aspeknya mau tidak mau harus mangakomodasi perkembangan itu, baik perkembangan iptek maupun perkembangan masyarakat.
a.    Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji agar jelas makna dan kadudukan masing-masing, yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta istilah lain yang terkait dengannya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diperoleh dari berbagai cara penginderaan terhadap fakta. Penalaran, intuisi, dan wahyu. Pengetahuan yang memenuhi criteria dari segi ontologism, epistemologis, dan aksiologis secara konsikuen dan penuh disiplin biasa disebut ilmu atau ilmu pengetahuan; kata sifatnya adalah ilmiah atau keilmuan sedangkn ahlinya disebut ilmuan
b.    Perkembangan Iptek sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia.
Seperti telah dikemukakan, pengembangan dan pemanfaatan iptek pada umunya ditempuh rangkaian kegiatan: penelitian dasar, penelitian terapan, pengembanan teknologi dan penerapan teknologi, serta biasanya diikuti pula dengan evaluasi ethis-politis-religius. Langkah terakhir itu deperlukan untuk menetukan apakah hasil iptek itu dapat diterima oleh masyarakat dan apakah dampaknya tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur dari masyarakat.
B.   Asas-Asas Pokok Pendidikan
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perencanaan maupun pelaksaan pendidikan.
Khusus untuk pendidiksn Indonesia, terdapat sejumlah asas yang member arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu.
1.    Asas Tut Wuri Handayani
Asas tut wuri handayani merupakan inti dari asas pertama
a)    Yang menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam perikehidupan umum.
2.    Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup.
Dalam latar pendidikan seumur hidup, proses belajar mengajar disekolah seyogianya mengembang sekurang-kurangnya dua misi, yakni membelajarkan peserta didik dengan efisien dan efektif, dan serentak dengan itu, meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai basis dari belajar sepanjang hayat.
3.    Asas Kemandirian dalam Belajar
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitatior dan motivator, di samping peran-peran lain: informatory, organisator, dan sebagainya. Sebagai fasilitator, guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedang sebagai motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu. Pengembangan kemandirian dalam belajar ini seyogianya dimulai dalam kegiatan intrakurikuler, yang dikembangkan dan dimantapkan selanjutnya dalam kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar